Rumah Watak Sumatera Utara (Rumah Bolon), Gambar, Dan Penjelasannya
Rumah Adat Sumatera Utara / Sumatera Utara ialah provinsi dengan populasi penduduk terbanyak ke-4 di Indonesia. Provinsi yang beribukota di Kota Medan ini dihuni oleh suku Batak selaku suku secara umum dikuasai sekaligus suku aslinya. Suku Batak sendiri merupakan salah satu suku bangsa terbesar di Indonesia sehabis suku Jawa. Suku Batak terbagi ke dalam beberapa sub suku, di antaranya Batak Toba, Batak Angkola, Batak Simalungun, Batak Pakpak, dan Batak Mandailing. Masing-masing sub-suku Batak tersebut diketahui mempunyai beberapa karakteristik budaya yang saling membedakan satu sama lainnya. Salah satu karakteristik tersebut contohnya sanggup kita lihat dari desain rumah adatnya.
Kendati terdapat bermacam-macam versi arsitektur, rumah bolon secara umum mempunyai beberapa karakteristik yang membedakan rumah budbahasa Sumatera Utara ini dengan rumah budbahasa dari provinsi-provinsi lain di Indonesia. Rumah Bolon merupakan rumah panggung yang hampir seluruh bagiannya dibentuk memakai materi bangunan yang diperoleh dari alam.
Tiang penopang rumah yang tingginya sekitar 1,75 meter dari permukaan tanah dibentuk dari gelondongan kayu berdiameter > 40 cm, dindingnya terbuat dari anyaman bambu, lantainya terbuat dari papan, sementara atapnya dibentuk dari materi daun rumbia atau ijuk. Untuk menguatkan ikatan antar materi sampai sanggup bersatu rumah bolon tidak memakai satu paku pun. Ia dibentuk dengan sistem kunci antar kayu yang lalu diikat memakai tali.
Pembagian ruangan ibarat hukum di atas tidak berarti setiap ruangan harus dipisahkan oleh dinding pemisah. Secara umum, bab dalam rumah ialah ruang yang luas tanpa sekat. Namun ruangan-ruangan tersebut dipisahkan oleh hukum budbahasa yang membatasi dan mengikat setiap anggota keluarga maupun para tamu yang datang.
Ciri khas dari rumah Bolon budbahasa Batak tersebut antara lain:
Nah, demikianlah pemaparan sekilas kami perihal rumah budbahasa Sumatera Utara beserta gambar, sejarah, filosofi, dan penjelasannya. Semoga sanggup menjadi tumpuan bagi kita untuk semakin mengenal budaya masyarakat suku Batak. Jika artikel klarifikasi rumah budbahasa Bolon ini dirasa bermanfaat, silakan share. Jangan lupa pula untuk membaca artikel kami tentang rumah budbahasa Riau di pembahasan selanjutnya. Salam!
Rumah Adat Sumatera Utara
Secara umum, rumah budbahasa Sumatera Utara yang dikenal dan dianggap sebagai ikon budaya Provinsi Sumatera Utara ialah Rumah Bolon. Namun, selain rumah Bolon, terdapat pula beberapa desain rumah budbahasa lainnya. Nah, di kesempatan ini kami akan mengulas perihal desain rumah adat-rumah budbahasa tersebut secara lengkap mulai dari sejarah, gaya arsitektur, gambar, struktur, dan nilai-nilai filosofis yang terdapat di dalamnya. Bagi Anda yang ingin tahu bagaimana uniknya rumah budbahasa Batak ini, silakan simak pembahasan berikut!1. Struktur Bangunan Rumah
Rumah budbahasa Bolon merupakan sebutan bagi rumah budbahasa suku Batak di Sumatera Utara. Adanya beberapa sub suku Batak menyebabkan arsitektur rumah budbahasa satu ini juga terbagi ke dalam beberapa versi. Ada rumah bolon Toba, rumah Bolon Karo, rumah bolon Simalungun, Rumah bolon Pakpak, rumah bolon Mandailing, dan rumah Bolon Angkola.Kendati terdapat bermacam-macam versi arsitektur, rumah bolon secara umum mempunyai beberapa karakteristik yang membedakan rumah budbahasa Sumatera Utara ini dengan rumah budbahasa dari provinsi-provinsi lain di Indonesia. Rumah Bolon merupakan rumah panggung yang hampir seluruh bagiannya dibentuk memakai materi bangunan yang diperoleh dari alam.
Tiang penopang rumah yang tingginya sekitar 1,75 meter dari permukaan tanah dibentuk dari gelondongan kayu berdiameter > 40 cm, dindingnya terbuat dari anyaman bambu, lantainya terbuat dari papan, sementara atapnya dibentuk dari materi daun rumbia atau ijuk. Untuk menguatkan ikatan antar materi sampai sanggup bersatu rumah bolon tidak memakai satu paku pun. Ia dibentuk dengan sistem kunci antar kayu yang lalu diikat memakai tali.
2. Fungsi Rumah Adat
Pada masa silam, rumah Bolon merupakan rumah kediaman bagi 13 raja-raja batak. Namun, seiring perkembangannya, ia pun lalu dipakai sebagai rumah bagi penduduk suku Batak secara umum. Untuk menunjang fungsi tersebut, rumah budbahasa Sumatera Utara ini terbagi atas beberapa ruang menurut peruntukannya, yaitu:- Ruangan jabu bong ialah ruangan khusus untuk kepala keluarga yang letaknya berada di belakang di sudut sebelah kanan.
- Ruangan jabu soding ialah ruangan khusus untuk anak wanita yang letaknya berada di belakang sebelah kiri berhadapan dengan jabu bong.
- Ruangan jabu suhat ialah ruangan khusus untuk anak lelaki tertua yang telah menikah yang letaknya berada di sudut kiri depan.
- Ruangan tampar piring ialah ruangan untuk menyambut tamu yang letaknya berada di sebelah jabu suhat.
- Ruangan jabu tonga rona ni jabu rona ialah ruang keluarga yang ukurannya paling besar dan letaknya berada di tengah rumah.
- Kolong rumah digunakan sebagai daerah penyimpanan materi pangan sekaligus sangkar ternak.
Pembagian ruangan ibarat hukum di atas tidak berarti setiap ruangan harus dipisahkan oleh dinding pemisah. Secara umum, bab dalam rumah ialah ruang yang luas tanpa sekat. Namun ruangan-ruangan tersebut dipisahkan oleh hukum budbahasa yang membatasi dan mengikat setiap anggota keluarga maupun para tamu yang datang.
3. Ciri Khas dan Nilai Filosofis
Rumah Bolon sanggup menjadi rumah budbahasa Sumatera Utara alasannya ialah dianggap mempunyai beberapa keunikan tersendiri dalam desain arsitekturnya. Keunikan inilah yang lalu menjadi ciri khas sekaligus pembeda rumah budbahasa ini dengan rumah adat provinsi lainnya di Indonesia.Ciri khas dari rumah Bolon budbahasa Batak tersebut antara lain:
- Memiliki atap yang bentuknya ibarat pelana kuda dengan sudut yang sangat sempit sehingga cukup tinggi.
- Dindingnya pendek tapi cukup untuk berdiri alasannya ialah rumah tidak dilengkapi dengan plafon.
- Dinding bab atas dilengkapi dengan anyaman-anyaman yang mempercantik penampilan rumah.
- Di atas pintu depan terdapat gorga atau lukisan hewan, ibarat cicak dan kerbau yang didominasi dengan warna merah, hitam, dan putih. Gambar cicak merupakan simbol bahwa masyarakat Batak ialah masyarakat yang mempunyai rasa persaudaraan yang begitu besar lengan berkuasa antar sesamanya, sedangkan gambar kerbau ialah simbol ucapan terimakasih.
Nah, demikianlah pemaparan sekilas kami perihal rumah budbahasa Sumatera Utara beserta gambar, sejarah, filosofi, dan penjelasannya. Semoga sanggup menjadi tumpuan bagi kita untuk semakin mengenal budaya masyarakat suku Batak. Jika artikel klarifikasi rumah budbahasa Bolon ini dirasa bermanfaat, silakan share. Jangan lupa pula untuk membaca artikel kami tentang rumah budbahasa Riau di pembahasan selanjutnya. Salam!
Komentar
Posting Komentar